http://bola.liputan6.com/read/742587/kisah-robin-van-persie-darah-arek-suroboyo-ada-di-dadanya-1
Kota Surabaya memang kaya akan kisah. Gulungan kitab sejarah tentang
kejayaan nusantara dan kemerdekaan Indonesia tak akan pernah bisa lepas
dari kisah kota yang berasal dari gabungan dua kata Sura dan Baya
bermakna terbebas dari bahaya itu. Konon pendiri Kerajaan Majapahit
Raden Wijaya (tahun 1293) yang menamai kota pelabuhan di timur Pulau
Jawa itu setelah berhasil mengusir bala tentara Tartar dari tanah Jawa.
Bumi Jawa ketika itu pun terbebas dari bahaya infiltrasi kekuasaan
Kaisar Kublai Khan.
Banyak kisah pejuang kemerdekaan berasal dari
Surabaya. Jamak pula seniman dan atlet ternama yang berasal dari Kota
Pahlawan ini. Bahkan bomber Manchester United asal Negeri Belanda Robin
van Persie pun disebut-sebut berasal dari Surabaya.
Darah Seni Mengalir di Tubuh Robin
Robin
van Persie lahir, tumbuh, dan besar di lingkungan keluarga seniman. Tak
ada cerita dunia atlet sedikit pun di lingkungan keluarganya. Sang ayah
Bob van Persie dikenal sebagai seniman patung dan istrinya Jose Ras
seorang pelukis sekaligus perancang perhiasan. Mereka berdua terbiasa
hidup terpisah. Bahkan setelah Robin van Persie lahir 6 Agustus 1983
silam di Rotterdam, Belanda, si jabang bayi tak selalu bersama kedua
orangtuanya.
Bocah Robin van Persie hidup bersama sang ayahanda
di Belanda. Selain Van Persie, ada lagi dua saudari perempuannya yang
juga tinggal bersama sang ayah Bob van Persie. Kedua saudarinya itu
diketahui bernama Lily dan Kiki.
Darah
Indonesia yang mengalir dalam diri Robin van Persie berasal dari garis
ibu. Dari cerita yang bergulir dalam keluarga, disebut-sebut nenek
ibunda Robin van Persie masih 'berbau' Indonesia berasal dari Surabaya.
Jose Ras sang ibu dulu memilih tinggal di Belanda.
Hubungan
Indonesia-Belanda memiliki kisah sejarah amat panjang. Tak terhitung
lagi, berapa orang asal Indonesia yang hengkang dan tinggal di Negeri
Kincir Angin itu. Begitu pula sebaliknya, banyak warga Belanda yang
jatuh cinta hingga akhirnya hidup di Negeri Nusantara sampai
meninggalnya dikubur di Bumi Pertiwi.
Main Bola Sejak Umur 5 Tahun
Insting
pelatih Klub SBV Excelsior Aad Putters di Rotterdam tak salah. Saat
pertama kali melihat Robin van Persie sinyalnya langsung nyambung. Dia
melihat, ada yang berbeda dengan bocah yang waktu itu masih berumur
sekitar 5,5 tahun itu. Mata sang pelatih tak berkedip menyaksikan
kepintaran Van Persie.
"Biasanya anak-anak bergabung di usia 6
tahun. Tapi Robin datang di usia 5,5 tahun dan bertanya apakah sudah
boleh bergabung. Jadi saya tes dia. Dan dari jarak 13 meter jauhnya, dia
bisa mengendalikan bola mati di bawah kaki kanannya. Sesuatu yang
menakjubkan untuk anak seusianya," ujar Aad melukiskan bagaimana dia
amat terkesan dengan bocah kecil itu.
Ternyata
tak hanya itu yang ditunjukkan bocah Van Persie. Kemampuan menendang
bola pun ditunjukkannya dengan kaki kiri dan kanan.
"Dia bisa
menendang dengan kaki kanan, sama baiknya dengan kaki kiri. Itu sesuatu
yang luar biasa untuk anak seusianya," tambahnya lagi, masih dengan nada
penuh kekaguman.
Menurut Aad, sejak kecil Van Persie memiliki
dedikasi terhadap sepakbola yang sangat luar biasa. Walaupun cuaca
buruk, dia tetap datang dan bermain bola di bawah hujan deras.
"Dalam
salah satu kesempatan latihan, pernah dibatalkan karena cuaca buruk,
tapi Robin menelepon dan bilang akan datang. Jadi saya berlatih
dengannya selama satu jam di bawah hujan deras," tutur Aad mengingat
masa lalunya.
Anak Sulit Diatur
"Dia anak
yang sulit dikendalikan. Dia ikut saya sampai berumur 12 tahun. Setelah
itu, dia aktif dengan dunianya sendiri," tutur sang ayah Bob van Persie
mengingat masa lalunya.
Robin van Persie memang tumbuh menjadi
anak yang selalu kukuh dengan kemauannya sendiri. Sebagian orang bahkan
mengecapnya sebagai anak yang keras kepala, cenderung nakal, tak bisa
diam, dan dianggap bodoh di kelas karena tak pernah mau memperhatikan
gurunya saat mengajar di dalam kelas.
Salah seorang guru sejarah
di sekolahnya dulu, Omar Verhoeven membenarkan cerita tersebut. Beberapa
guru berusaha untuk membuat Van Persie agar tertarik ke pelajaran
sekolah namun selalu menemui kegagalan.
"Dia bukan murid yang baik," ujar Verhoeven menyimpulkan kondisi Robin van Persie kala itu.
Karena
keadaan seperti itulah, dirinya sering memanggil Robin van Persie
secara pribadi untuk diajak berbicara dari hati ke hati. Tapi
jawaban-jawaban yang meluncur dari mulut muridnya itu kerap membuatnya
kecewa.
"Dengan dia, selalu ada masalah yang cukup menyulitkan.
Yang ada di pikirannya hanya tiga hal, sepakbola, sepakbola, dan
sepakbola. Ketika itu, saya tegaskan: Tidak! Ada pelajaran sejarah,
matematika, dan lainnya," ujar Verhoeven.
Walau pernah dikatakan
sebagai anak yang susah diatur, tapi Van Persie tak mau menggubris. Dia
tetap cuek dengan prestasi akademiknya dan lebih fokus pada sepakbola.
Hampir sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bermain bola.
Bagaimana cerita bocah keturunan berdarah Arek Suroboyo ini selanjutnya? Ikuti terus Kisah Robin van Persie: Masa Remaja, Karier, dan Cerita Cinta.
Kisah Robin van Persie: Darah Arek Suroboyo Ada di Dadanya [1]
00.43 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar